Jumat, 30 Agustus 2019

 UJI ADRENALIN MAPALA UNIMED DI TEBING SIKULIKAP


       Olahraga Panjat Tebing adalah salah satu dari sekian banyaknya olahraga alam bebas yang tergolong extreme. Akan tetapi kondisi tersebut sebernanya bisa diminimalisir bahkan bisa menjadi olahraga yang aman dan bersahabat bagi siapa saja dan tidak memandang umur, jenis kelamin, apalagi strata sosial. Nah bagi kamu yang seorang pemula selain peralatan yang harus di lengkapi dalam hal panjat tebing, hendaknya harus didampingi oleh orang yang profesional dan paham akan teknik dasarnya.


Secara umum ada tiga teknik atau jalur yang di lalui pemanjat, yaitu:

  • Face Climbing yaitu tenik panjat tebing dengan memanfaatkan tonjolan batu (point) atau rongga pada tebing yang sekiranya dapat dipergunakan oleh tangan (untuk dipegang) dan kaki (untuk dipijak) untuk menjaga keseimbangan.
  • Slab Clambing/ Friction yaitu teknik panjat tebing dengan tebing yang tidak terlalu tegak (vertical) dan memiliki permukaan kasar sehingga dengan bantuan gesekan pada sol sepatu atau gesekan badan saja kita sudah bisa menjaga keseimbangan badan kita dan melakukan pemanjatan.
  • Fissure Climbing yaitu teknik panjat tebing dengan memanfaatkan celah pada tebing untuk melakukan pemanjatan.



Anggota MUM yang mengikuti DIKJUT & LANTAP Panjat Tebing
beserta Instruktur dan Anggota Biasa (AB)



LESTARI  GEMIPA  OKE BUNG  !!!







Senin, 08 Juli 2019


BASAH SERU MAPALA UNIMED



Bagi unit kegiatan mahasiswa (UKM) mapala unimed arung jeram bukanlah suatu olahraga yang mustahil lagi untuk dilakukan. Sebab olahraga arung jeram merupakan salah satu bentuk kegiatan mapala unimed di bidang diklat karena arung jerum merupakan kegiatan pendidikan yang harus diikuti para anggota MUM untuk menjadi instruktur.

Olahraga arung jeram tidak bisa sembarangan di lakukan. Mereka harus mengetaui terlebih dahulu dasar-dasar/teknik dalam olahraga arung jeram. Untuk para pemula bisa memulainya dengan teknik mendayung. Ada begitu banyak teknik mendayung yang harus diketaui, diantaranya yaitu :
  1. Dayung maju dengan memasukkan blade/bilah dayung didalam air kearah belakang seara perahu. Posisi blade/bilah dayung saat menyentuh air adalah tegak lurus terhadap permukaan.
  2. Dayung mundur dengan memasukkan blade/bilah dayung yang berada di dalam air ke arah depan searah perahu. Posisi blade/bilah daayung saat menyentuh air adalah sejajar dengan permukaan air. Begitu pun saat keluar dari air, dayung diarahkan sejajar dengan permukaan.
  3. Dayung belok kiri dengan membelokkan perahu kearah kiri. Gerakan ini dilakukan dengan dayungan maju oleh peserta yang duduk pada perahu bagian kanan, sementara peserta pada kiri perahu stop mendayung. 
  4. Dayung belok kanan dengan membelokkan perahu ke kiri. Gerakan ini dilakukan dengan gerakan maju oleh peserta yang duduk pada perahu bagian kiri, sementara peserta pada kanan perahu stop mendayung. 
Semoga teknik diatas dapat bermanfaat bagi kalian yang ingin melakukan kegiatan olahraga arung jeram.

LESTARI GEMIPA OKE BUNG !!!




Rabu, 29 Mei 2019

KONSERVASI MAPALA UNIMED

Sebagai salah satu bentuk kegiatan mapala unimed di bidang konservasi yang salah satu projanya ialah menanam 5000 bibit pohon. Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk dari aksi peduli mapala unimed terhadap lingkungan alam di bumi kita. Dalam hal ini kami yang bergerak sebagi agen konservator alam juga mendistribusi berbagai jenis bibit pohon yang berlokasi di sekret Mapala Unimed sendiri. Dengan menanam pohon maka kita akan tahu sejuta manfaat yang akan kita peroleh, yaitu :
  1. Menanam pohon dapat menyerap polusi yang ada di sekitar kita dan diproses menjadi oksigen.
  2. Mengurangi dampak dari pemanasan global karena pohon mampu menyerap emesi karbon yang merupakan salah satu penyebab pemanasan global yang menyebabkan suhu di bummi menjadi panas.
  3. Menyimpan cadangan air di dalam tanah sehingga air yang tersimpan dapat bermanfaat untuk makhluk hidup untuk bertahan hidup dikala musim kemarau tiba, dan lain-lain.
 Kami berharap dengan adanya kegiatan ini dapat menambah wawasan kita mengenai betapa penting menanam pohon bagi lingkungan serta turut ambil andil dalam menjaganya.
LESTARI GEMIPA OKE BUNG !!!

Senin, 10 Desember 2018

7 Bencana Alam Mengerikan Ini Dipicu Pemanasan Global?

Oleh Afra Augesti pada 25 Okt 2018, 20:10 WIB
Saat Kota New York Kembali Dilanda Badai Salju
 - Ilmuwan telah beberapa kali mengatakan bahwa Bumi sedang mengalami pemanasan global, yakni proses meningkatnya suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan di planet ini.
Pemanasan global juga bisa diartikan sebagai naiknya suhu Bumi secara menyeluruh, ditandai dengan es di Kutub yang mencair dan temperatur di berbagai tempat di seluruh dunia yang cenderung naik.
Menurut Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), selama 3 abad terakhir, suhu rata-rata di permukaan Bumi telah meningkat 1 derajat Celcius.
IPCC menyimpulkan bahwa sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan Abad ke-20, kemungkinan besar, disebabkan oleh naiknya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia --melalui efek rumah kaca.
Efek rumah kaca disebabkan karena meningkatnya konsentrasi gas karbon dioksida (CO2) dan gas-gas lainnya di atmosfer.
"Pada tahun 2050, mungkin akan meningkat 1,5 derajat Celcius. Perubahan-perubahan yang tampaknya kecil ini, sebenarnya dapat menyebabkan masalah serius bagi umat manusia, seperti beberapa bencana alam," kata IPCC, seperti dikutip dari Bright Side, Kamis (25/10/2018).
repost :

https://m.liputan6.com/global/read/3676381/7-bencana-alam-mengerikan-ini-dipicu-pemanasan-global

Kebun Sawit Dituding Picu Perusakan Hutan, Benarkah?

Muhammad Idris - detikFinance
Foto: Febri Angga PalgunaFoto: Febri Angga Palguna
Jakarta - Produk sawit Indonesia disorot dunia. Ini setelah Parlemen Uni Eropa mengeluarkan resolusi yang menyebut komoditas andalan ekspor itu jadi penyebab deforestasi hutan.

Lantas, benarkah perkebunan jadi pemicu deforestasi alias perusakan hutan? Dirjen Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLH), San Afri Awang, mengungkapkan memang kebun sawit membuat alih fungsi kawasan hutan.

Namun, alih fungsi hutan karena pembukaan perkebunan sawit justru kecil, jika dibandingkan dengan alih fungsi hutan untuk sektor peternakan.
Baca juga: Ekspor Sawit ke Eropa Dihambat, Ada Peluang di Dalam Negeri 

"Hutan yang sudah dilepas bagaimana pun ada unsur deforestasi. Tapi sawit bukan satu-satunya penyebab deforestasi hutan dunia. Minyak sawit bukan penyebab utama," kata San Afri saat rapat dengan pendapat dengan Komisi IV DPR, Kompleks DPR, Jakarta, Selasa (18/4/2017).

Menurut Afri, dari data 239 juta hektar lahan hutan dunia yang mengalami deforestasi selama 20 tahun terakhir, sebanyak 50 juta hektar alih fungsi hutan dilakukan untuk sektor peternakan.

"Kemudian (penyebab) deforestasi hutan kedua sebanyak 13 juta hektar akibat kedelai, 8 juta hektar karena jagung, dan sawit hanya 6 juta hektar atau hanya 2,5%," jelasnya.

Dia berujar, tuduhan sawit penyebab kerusakan hutan tersebut dianggap terlalu berlebihan. Tudingan miring tersebut lebih karena minyak sawit bisa diproduksi dengan sangat efisien, jauh lebih murah dibandingkan minyak nabati lain.

"Kalau menurut kami, terlalu berlebihan negara Uni Eropa proteksi produknya. Mareka ketakutan kalau produktivitas sawit kita sangat efisien, bisa 4,2 ton per hektar per tahun, sehingga tidak perlu tanah luas," ucap Afri.

Baca juga: Eropa Jegal Minyak Sawit RI, JK: Mereka Takut Tersaingi

Efisiennya produksi minyak sawit ini jauh mengungguli produktivitas tahunan minyak nabati lainnya seperti rapeseed (minyak rapak) yang hanya 0,6 ton per hektar, minyak bunga matahari 0,5 ton per hektar, dan minyak kedelai 0,4 ton per hektar.

"Jadi kami tolak kalau minyak sawit jadi penyebab utama deforestasi. Deforestasi itu definisi simpelnya segala sesuatu yang mengubah hutan jadi penggunaan lain dan tak jadi hutan lagi," tandas Afri. 

repost :

https://m.detik.com/finance/berita-ekonomi-bisnis/d-3477804/kebun-sawit-dituding-picu-perusakan-hutan-benarkah

Buah Lai, Si Kuning Atraktif yang Mirip Durian dari Kalimantan

Reporter: 

Antara

Editor: 

Rita Nariswari

9 Desember 2018 07:30 WIB
Warna kuning dari daging buah dan bagian luarnya yang berduri membuatnya mirip dengan durian. Tapi sesungguhnya ini buah ruas atau lai yang bisa ditemukan di Kalimantan. (balitbu.litbang.pertanian.go.id)

TEMPO.COJakarta - Bila jalan-jalan ke beberapa daerah di kalimantan, semisal bila dari  Balikpapan ke Samarinda di Kalimantan Timur terlihat bergelantungan buah dengan duri di sekelilingnya. Jangan langsung menyangka itu lah buah durian. Tampilan memang mirip dengan buah beraroma menyengat tersebut. Namun yang satu ini dikenal sebagai buah lai, atau di Kalimantan Utara dikenal ruas. 
Buah lai dijajakan hanya saat musim. Menjelang akhir tahun dan awal tahun menjadi saat kemunculan buah berwarna daging kuning tua  kadang agak jingga ini. Tepatnya, musim Lai antara Januari hingga Maret, dan puncaknya di bulan Februari. Namun akhir tahun seperti saat ini sudah bisa ditemukan di beberapa titik di Kalimantan Utara.  Di antaranya di Tanjung Selor, memang tak hanya buah ruas tpai juga beragam buah lainnya yang saat ini tengah berbuah, seperti rambutan, mangga, langsat dan lain-lain.
Namun yang tentunya unik, dan wajib dicicipi adalah buah lai alias ruas yang memiliki nama Latin Durio kutejensis. Disebutkan memang salah satu kerabat durian. Ukurannya mulai kecil hingga sedang atau 1-2 kilogram. Tak hanya buahnya yang mirip durian, pohonnya pun serupa. Umumnya pohon berukuran sedang, demikian juga daunnya cenderung besar dan tebal. Panjang daun antara 20-25 centimeter. 

repost :
https://travel.tempo.co/read/1153573/buah-lai-si-kuning-atraktif-yang-mirip-durian-dari-kalimantan/full?view=ok

Dermaga Baru Pulau Rinca Labuan Bajo Bisa Disandari Kapal Besar

Reporter: 

Antara

Editor: 

Tulus Wijanarko

8 Desember 2018 12:25 WIB
Menteri BUMN Rini Sumarno (kedua kiri) didampingi Gubernur Nusa Tenggara Timur Victor J. Laiskodat (kedua kanan) mendapat tarian penyambutan dari warga setempat saat meninjau peresmian dermaga baru Pulau Rinca, di NTT, Jumat, 7 Desember 2018. ANTARA/Indrianto Eko Suwarso

TEMPO.COLabuan Bajo - Menteri BUMN Rini M Soemarno melakukan peresmian penggunaan Dermaga di Pulau Rinca, Labuan Bajo, yang dibangun untuk penduduk setempat. Dermaga baru itu memungkinkan kapal-kapal berukuran besar, termasuk speed boat untuk merapat ke Pulau Rinca.
Pembangunan dermaga Rinca menelan biaya Rp 4.38 miliar yang didukung oleh sinergi enam BUMN yaitu PT Bank Mandiri (Psersero) Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero).
"Sebelumnya Dermaga di pulau ini hanya terbuat dari kayu, namun sekarang sudah dibangun dengan baik berkat sinergi enam BUMN. Semoga keberadaan dermaga ini bisa membantu masyarakat Pulau Rinca terutama untuk bisa menjadi sarana penunjang transportasi masyarakat. Terima kasih kepada BUMN yang sudah terlibat," kata Rini.Sejumlah anak bermain di dermaga lama Pulau Rinca yang terbuat dari kayu di Kawasan Taman Nasional Komodo, NTT, Kamis, 6 Desember 2018. ANTARA/Indrianto Eko Suwarso
Dari dermaga ini juga akan berlayar  Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Komodo  yang dikelola PT ASDP Indonesia Ferry (Persero). Dengan kapal ini masyarakat dan wisatawan bisa memanfaatkan transportasi laut yang aman, nyaman dan terjangkau menuju Pulau Komodo, Pulau Padar dan Pink Beach
repost :
https://travel.tempo.co/read/1153388/dermaga-baru-pulau-rinca-labuan-bajo-bisa-disandari-kapal-besar