Selasa, 15 Mei 2018

Badak Putih Jantan Terakhir di Bumi Sangat Membutuhkan Pasangan



Sudan, badak putih jantan terakhir di muka bumi, sedang membutuhkan pasangan kencan. Umurnya sudah 43 tahun, dan bila tak segera mendapat pasangan, tentu saja, ancaman kepunahan kian 
Dulunya Sudan masih punya rekan bernama Suni. Namun Suni ditemukan mati pada Oktober 2014.
Sudan, yang kini berada di tempat konservasi Ol Pejeta, Kenya, sebenarnya sudah diarahkan untuk mendekati dua badak putih betina yang ada: Fatu, 17 tahun, dan Najin, 27 tahun.
"Kami sudah mencoba segalanya agar mereka kawin alami," kata Elodie Sampere, manajer pemasaran konservasi Ol Pejeta, di mana tiga badak putih yang di ambang kepunahan itu dijaga 24 jam. "Saat pertama kali ia (Sudan) akan mengawini seekor betina, penjaga hutan membimbingnya…, tapi susah untuk badak." 
"Kami menjauhkannya dari lingkungan kebun binatang yang tidak kondusif untuk insting alami dan menempatkan mereka di lingkungan semi-liar. Ada beberapa perkawinan, tapi tak pernah terjadi kehamilan,"
Kini para ilmuwan berharap bisa menggunakan cara lain. Mereka ingin melakukan pengobatan kesuburan dan menggunakan sperma Sudan untuk membuahi sel telur, entah Fatu atau Najin. Namun, untuk itu, dibutuhkan biaya tak sedikit, yakni sekitar US$ 9 juta.
Tak kurang akal, akhirnya mereka memunculkan Sudan ke aplikasi perjodohan Tinder di Internet. Profilnya di Tinder bertulisan: “Saya tak bermaksud untuk terburu-buru, tapi nasib spesies saya benar-benar bergantung pada saya. Saya bisa tampil bagus kalau berada di bawah tekanan. Saya suka makan rumput dan bersantai di kubangan lumpur. Tak masalah. Tinggi saya 6 kaki dan bobot saya 5.000 pon (2.267 kilogram).”
Para ahli konservasi berharap kemunculan Sudan di aplikasi kencan Tinder bisa membantu mereka menggalang dana yang dibutuhkan. Mereka memang berburu dengan waktu. Sudan bisa mati kapan saja, baik oleh sebab alamiah maupun perburuan liar.
Para pemburu menjual cula badak putih utara seharga US$ 50 ribu per kg (sekitar Rp 664,9 juta). Itu membuatnya jauh lebih berharga ketimbang emas atau kokain. Maka para penjaga takut kalau Sudan, yang sudah 43 tahun, dibunuh sebelum mereka bisa mengumpulkan dana. "Selalu ada ketakutan itu. Dia sudah tua dan bisa segera mati," kata pakar badak Richard Vigne, CEO Ol Pejeta. "Selama masih ada permintaan cula badak di Timur Jauh, ancaman akan selalu ada."

Repost :
https://www.google.com/amp/s/travel.tempo.co/amp/870043/badak-putih-jantan-terakhir-di-bumi-sangat-membutuhkan-pasangan

Profil dan Biografi Soe Hok Gie.

Sosoknya sangat terkenal karena tulisannya yang sangat kritis terhadap pemerintah orde lama dan orde baru meskipun ia meninggal dalam usia muda namanya sangat dikenal dikalangan para aktivis karena tulisan-tulisan dan pemikirannya yang sangat fenomenal. Soe Hok Gie adalah Orang keturunan China yang lahir pada 17 Desember 1942. Seorang putra dari pasangan Soe Lie Pit seorang novelis dengan Nio Hoe An. Soe Hok Gie adalah anak keempat dari lima bersaudara keluarga Soe Lie Piet alias Salam Sutrawan, Soe Hok Gie merupakan adik dari Soe Hok Djie yang juga dikenal dengan nama Arief Budiman. Sejak masih sekolah, Soe Hok Gie dan Soe Hok Djin sudah sering mengunjungi perpustakaan umum dan beberapa taman bacaan di pinggir-pinggir jalan di Jakarta.
      Profil dan Kehidupan Soe Hok gie Ketika Kecil
Sejak masih sekolah, Soe Hok Gie dan Soe Hok Djin sudah sering mengunjungi perpustakaan umum dan beberapa taman bacaan di pinggir-pinggir jalan di Jakarta. Menurut seseorang peneliti, sejak masih Sekolah Dasar (SD), Soe Hok Gie bahkan sudah membaca karya-karya sastra yang serius, seperti karya Pramoedya Ananta Toer. Mungkin karena Ayahnya juga seorang penulis, sehingga tak heran jika dia begitu dekat dengan sastra.
    Sesudah lulus SD, kakak beradik itu memilih sekolah yang berbeda, Hok Djin (Arief Budiman) memilih masuk Kanisius, sementara Soe Hok Gie memilih sekolah di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Strada di daerah Gambir. Konon, ketika duduk di bangku ini, ia mendapatkan salinan kumpulan cerpen Pramoedya: “Cerita dari Blora” —bukankah cerpen Pram termasuk langka pada saat itu?
      Pada waktu kelas dua di sekolah menangah ini, prestasi Soe Hok Gie buruk. Bahkan ia diharuskan untuk mengulang. Tapi apa reaksi Soe Hok Gie? Ia tidak mau mengulang, ia merasa diperlakukan tidak adil. Akhirnya, ia lebih memilih pindah sekolah dari pada harus duduk lebih lama di bangku sekolah. Sebuah sekolah Kristen Protestan mengizinkan ia masuk ke kelas tiga, tanpa mengulang.
      Selepas dari SMP, ia berhasil masuk ke Sekolah Menengan Atas (SMA) Kanisius jurusan sastra. Sedang kakaknya, Hok Djin, juga melanjutkan di sekolah yang sama, tetapi lain jurusan, yakni ilmu alam.
      Selama di SMA inilah minat Soe Hok Gie pada sastra makin mendalam, dan sekaligus dia mulai tertarik pada ilmu sejarah. Selain itu, kesadaran berpolitiknya mulai bangkit. Dari sinilah, awal pencatatan perjalanannya yang menarik itu; tulisan yang tajam dan penuh kritik.
     Ada hal baik yang diukurnya selama menempuh pendidikan di SMA, Soe Hok Gie dan sang kakak berhasil lulus dengan nilai tinggi. Kemuidan kakak beradik ini melanjutkan ke Universitas Indonesia. Soe Hok Gie memilih ke fakultas sastra jurusan sejarah , sedangkan Hok Djin masuk ke fakultas psikologi.
     Di masa kuliah inilah Gie menjadi aktivis kemahasiswaan. Banyak yang meyakini gerakan Gie berpengaruh besar terhadap tumbangnya Soekarno dan termasuk orang pertama yang mengritik tajam rejim Orde Baru.
Soe Hok Gie sangat kecewa dengan sikap teman-teman seangkatannya yang di era demonstrasi tahun 66 mengritik dan mengutuk para pejabat pemerintah kemudian selepas mereka lulus berpihak ke sana dan lupa dengan visi dan misi perjuangan angkatan 66. Gie memang bersikap oposisif dan sulit untuk diajak kompromi dengan oposisinya.
Naik Gunung dan Mendirikan Mapala UI
Selain itu juga Gie ikut mendirikan Mapala UI. Salah satu kegiatan pentingnya adalah naik gunung. Pada saat memimpin pendakian gunung Slamet 3.442m, ia mengutip Walt Whitman dalam catatan hariannya, “Now I see the secret of the making of the best person. It is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth”.
Pemikiran dan sepak terjangnya tercatat dalam catatan hariannya. Pikiran-pikirannya tentang kemanusiaan, tentang hidup, cinta dan juga kematian. Tahun 1968 Gie sempat berkunjung ke Amerika dan Australia, dan piringan hitam favoritnya Joan Baez disita di bandara Sydney karena dianggap anti-war dan komunis. Tahun 1969 Gie lulus dan meneruskan menjadi dosen di almamaternya.
Bersama Mapala UI Gie berencana menaklukkan Gunung Semeru yang tingginya 3.676m. Sewaktu Mapala mencari pendanaan, banyak yang bertanya kenapa naik gunung dan Gie berkata kepada teman-temannya:
….Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.
Wafatnya Soe Hok Gie di Gunung Semeru
Tanggal 8 Desember sebelum Gie berangkat sempat menuliskan catatannya:
…Saya tak tahu apa yang terjadi dengan diri saya. Setelah saya mendengar kematian Kian Fong dari Arief hari Minggu yang lalu. Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin mengobrol-ngobrol pamit sebelum ke semeru. Dengan Maria, Rina dan juga ingin membuat acara yang intim dengan Sunarti. Saya kira ini adalah pengaruh atas kematian Kian Fong yang begitu aneh dan begitu cepat. 
Hok Gie meninggal di gunung Semeru tahun 1969 tepat sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27 akibat menghirup asap beracun di gunung tersebut. Dia meninggal bersama rekannya, Idhan Dhanvantari Lubis. Selanjutnya catatan selama ke Gunung Semeru lenyap bersamaan dengan meninggalnya Gie di puncak gunung tersebut.
Makam Soe Hok Gie
Pada tanggal 24 Desember 1969 Gie dimakamkan di pemakaman Menteng Pulo, namun dua hari kemudian dipindahkan ke Pekuburan Kober, Tanah Abang. Tahun 1975 Ali Sadikin membongkar Pekuburan Kober sehingga harus dipindahkan lagi, namun keluarganya menolak dan teman-temannya sempat ingat bahwa jika dia meninggal sebaiknya mayatnya dibakar dan abunya disebarkan di gunung. Dengan pertimbangan tersebut akhirnya tulang belulang Gie dikremasi dan abunya disebar di puncak Gunung Pangrango.

Beberapa quote yang diambil dari catatan hariannya Gie:
…Seorang filsuf Yunani pernah menulis… nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”
…Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras… diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil… orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur.” 
…Yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan adalah dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan..
Selain Catatan Seorang Demonstran, buku lain yang ditulis Soe Hok Gie adalah Zaman Peralihan, Di Bawah Lentera Merah (yang ini saya belum punya) dan Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan serta riset ilmiah DR. John Maxwell Soe Hok Gie: Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani.
Tahun depan Mira Lesmana dan Riri Reza bersama Miles Production akan meluncurkan film berjudul “Gie” yang akan diperankan oleh Nicholas Saputra, Sita Nursanti, Wulan Guritno, Lukman Sardi dan Thomas Nawilis. Saat ini sudah memasuki tahap pasca produksi.
Catatan Seorang Demonstran

John Maxwell berkomentar, “Gie hanya seorang mahasiswa dengan latar belakang yang tidak terlalu hebat. Tapi dia punya kemauan melibatkan diri dalam pergerakan. Dia selalu ingin tahu apa yang terjadi dengan bangsanya. Walaupun meninggal dalam usia muda, dia meninggalkan banyak tulisan.
Di antaranya berupa catatan harian dan artikel yang dipublikasikan di koran-koran nasional” ujarnya. “Saya diwawancarai Mira Lesmana (produser Gie) dan Riri Reza (sutradara). Dia datang setelah membaca buku saya. Saya berharap film itu akan sukses. Sebab, jika itu terjadi, orang akan lebih mengenal Soe Hok Gie” tuturnya.
Kata Kata Bijak Soe Hok Gie
  • Pertanyaan pertama yang harus kita jawab adalah: Who am I? Saya telah menjawab bahwa saya adalah seorang intelektual yang tidak mengejar kuasa tapi seorang yang ingin mencanangkan kebenaran. Dan saya bersedia menghadapi ketidak-populeran, karena ada suatu yang lebih besar: kebenaran.
  • Bagiku sendiri politik adalah barang yang paling kotor. Lumpur-lumpur yang kotor. Tapi suatu saat di mana kita tidak dapat menghindari diri lagi, maka terjunlah.
  • Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan Dewa dan selalu benar, dan murid bukan kerbau.
  • Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.
  • Saya memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip-prinsip saya. Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan.
  • Mimpi saya yang terbesar, yang ingin saya laksanakan adalah, agar mahasiswa Indonesia berkembang menjadi “manusia-manusia yang biasa”. Menjadi pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang bertingkah laku sebagai seorang manusia yang normal, sebagai seorang manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang pemuda dan sebagai seorang manusia.
  • Saya ingin melihat mahasiswa-mahasiswa, jika sekiranya ia mengambil keputusan yang mempunyai arti politis, walau bagaimana kecilnya, selalu didasarkan atas prinsip-prinsip yang dewasa. Mereka yang berani menyatakan benar sebagai kebenaran, dan salah sebagai kesalahan. Dan tidak menerapkan kebenaran atas dasar agama, ormas, atau golongan apapun.
  • Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi.
  • Sejarah dunia adalah sejarah pemerasan. Apakah tanpa pemerasan sejarah tidak ada? Apakah tanpa kesedihan, tanpa pengkhianatan, sejarah tidak akan lahir?
  • Bagiku perjuangan harus tetap ada. Usaha penghapusan terhadap kedegilan, terhadap pengkhianatan, terhadap segala-gala yang non humanis…
  • Kita seolah-olah merayakan demokrasi, tetapi memotong lidah orang-orang yang berani menyatakan pendapat mereka yang merugikan pemerintah.
  • Bagi saya KEBENARAN biarpun bagaimana sakitnya lebih baik daripada kemunafikan. Dan kita tak usah merasa malu dengan kekurangan-kekurangan kita.
  • Potonglah kaki tangan seseorang lalu masukkan di tempat 2 x 3 meter dan berilah kebebasan padanya. Inilah kemerdekaan pers di Indonesia.
  • To be a human is to be destroyed.
  • Saya tak mau jadi pohon bambu, saya mau jadi pohon oak yang berani menentang angin.
  • Saya putuskan bahwa saya akan demonstrasi. Karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan.
  • I’m not an idealist anymore, I’m a bitter realist.
  • Saya kira saya tak bisa lagi menangis karena sedih. Hanya kemarahan yang membuat saya keluar air mata.
  • Bagiku ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan: dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan.
  • Saya tak tahu mengapa, Saya merasa agak melankolik malam ini. Saya melihat lampu-lampu kerucut dan arus lalu lintas jakarta dengan warna-warna baru. Seolah-olah semuanya diterjemahkan dalam satu kombinasi wajah kemanusiaan. Semuanya terasa mesra tapi kosong. Seolah-olah saya merasa diri saya yang lepas dan bayangan-bayangan yang ada menjadi puitis sekali di jalan-jalan. Perasaan sayang yang amat kuat menguasai saya. Saya ingin memberikan sesuatu rasa cinta pada manusia, pada anjing-anjing di jalanan, pada semua-muanya.
  • Tak ada lagi rasa benci pada siapapun. Agama apapun, ras apapun dan bangsa apapun. Dan melupakan perang dan kebencian. Dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.


Repost :
https://www.biografiku.com/2009/02/biografi-soe-hok-gie-1942-1969.html

Kamis, 09 Februari 2017

mengapa mapala harus diksar



Mengapa mahasiswa pecinta alam harus DIKSAR?

Diksar atau pendidikan dasar bagi pecinta alam tentu tidak asing bagi para penggiat alam terbuka. Diksar adalah sebuah proses yang seharusnya di jalani bagi penerus sebuah organisasi penggiat alam bebas. Diksar kini seolah menjadi hantu yang menakutkan bagi calon anggota sebuah organisasi. Kemudian, perlukah Diksar bagi penggiat alam? Kita sering melihat atau mendengar, banyak pendaki gunung yang tewas ataupun hilang karena tersesat saat berkegiatan mendaki gunung. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Ternyata hal – hal tersebut terjadi karena adanya berbagai hal yang menjadi penyebab. Lalu apabila itu semua telah terjadi, siapa yang akan bertanggung jawab? Tidak ada satupun yang sanggup untuk bertanggung jawab, bahkan negara pun tidak bisa menyediakan fasilitas bagi rakyatnya untuk sekedar menikmati alam. 

Dari semua itu, apa hubungannya dengan Diksar (Pendidikan Dasar)? Berikut ini adalah tujuan yang ada dalam sebuah Diksar penggiat alam.
1. Pembentukan mental dan karakter yang kokoh
2. Pembentukan sikap rendah hati dan peduli lingkungan
3. Pembentukan kapasitas ilmu dalam berkegiatan di alam
4. Pembentukan kesadaran akan rasa kesamaan, kebersamaan, dan  kekeluargaan
5. Membentuk pribadi yang bijak dan beradab

Contoh kecelakaan atau peristiwa mengerikan bisa terjadi pada siapa saja ketika sudah berada di alam bebas. Orang yang profesional sekalipun mempunyai resiko yang sama ketika ia menempatkan dirinya di alam bebas. Kita tidak bisa memungkiri adanya kehendak Tuhan, namun yang bisa kita lakukan adalah mengurangi resiko kemungkinan terjadinya kecelakaan tersebut dari sisi manusianya sendiri (human error).

Menjadi sorotan utama apa saja yang kita butuhkan, bukan hanya sekedar fisik dan ilmu. Memang keduanya begitu sangat penting, namun bukan yang terpenting apabila keduanya berdiri sendiri – sendiri. Banyak hal yang terjadi selama dilapangan, kombinasi dari beberapa elemen yang kita miliki bisa menjadi solusi yang lebih baik. Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa Diksar tidak hanya mempersiapkan skill dalam berkegiatan di alam, namun juga sebagai tonggak awal berkembangnya mental dan insting mereka.
Akhirnya dari kombinasi itu mereka lebih percaya diri, lebih mampu mengukur kemampuannya, dan  peka terhadap sekelilingnya. Selalu mempertimbangkan akal sehat dan bukan sekedar menuruti hawa nafsu. Bisa di katakan bahwa, lebih banyak kecelakaan terjadi di gunung atau  hutan bukan karena lemah fisiknya, namun karena kurang rasa percaya diri, dan hilangnya fungsi seorang pemimpin.

Kondisi demikian berlanjut pada kacaunya komunikasi antar kelompoknya, ketidakpercayaan pada pemimpin, rasa takut yang hebat, hingga hilangnya semangat untuk mempertahankan hidup. Disini Diksar memiliki peranan yang amat penting sebelum seseorang melangkahkan kakinya di alam bebas.

tim arung jeram putri mapala unimed



“Tim Arung Jeram Putri MAPALA UNIMED U-23 Berlaga di Abu Dhabi (uni emirat arab)”

MEDAN – Berlokasi di titik nol Kota Medan, persisnya tugu depan Kantor Pos Lapangan Merdeka, Medan, Ketua Pengurus Provinsi (Pengprov) Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) Sumatera Utara Soekirman memberangkatkan tim putri U- 23 ke World Rafting Championship (WRC) 2016 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, Sabtu (29/10).
Mereka akan berlaga pada 31 Oktober–5 November. Meski hanya menggelar seremonial yang sangat sederhana, berangkat dari titik nol ini dianggap bisa menjadi penyemangat tim FAJI Sumut untuk meraih prestasi di ajang internasional tersebut. “Tidak ada seribu kalau tidak ada nol. Nah, titik nol Kota Medan ini semoga menjadi semangat bagi FAJI Sumut untuk meraih seribu prestasi bagi Indonesia, khususnya sekarang ini di WRC 2016, Abu Dhabi,” kata Soekirman.

Di ajang WRC kali ini Soekirman yang juga Bupati Serdangbedagai (Sergai) berharap tim besutannya mampu meraih medali dan mengulang prestasi ketika mampu menyabet 2 perak dan 3 perunggu pada Ekshibisi PON XIX 2016 di Jawa Barat, belum lama ini. Menurut dia, keberangkatan kelima putri Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Universitas Negeri Medan (Unimed) sebagai tim FAJI Sumut mewakili Indonesia di WRC 2016 ini juga sebagai simbol kebangkitan perempuan, khususnya Sumatera Utara.
“Selain semangat, dalam ajang yang bakal diikuti 22 negara ini tim harus memiliki 4 B. meliputi bond, brave, berain, dan behavior. Dengan ini tentunya saya optimis tim ini akan mampu bersaing dengan atlet dari Negara luar nantinya,” kata Soekirman. Pelepasan itu ditandai Soekirman dengan menyerahkan bendera Merah Putih kepada Manajer Tim Joni Walker Manik, didampingi Sekretaris Pengprov FAJI Sumut Elwin Rizapahlevi. Dalam kesempatan itu, Joni Walker Manik mengatakan, pihaknya akan berusaha sekuat tenaga untuk tampil bagus di WRC 2016.

“Tampil di Abu Dhabi ini adalah sirkuit arung jeram satu-satunya buatan manusia di dunia. Kami tidak pernah tahu seperti apa bentuknya,” ucapnya. Sementara itu, tim putri U- 23 bertindak sebagai kapten adalah  Nurima, beranggotakan :
1.      Mariani Manik, Jurusan Pend. Matematika (FMIPA)
2.      Nurima Pasaribu, Jurusan Pend. Bahasa Inggris (FBS)
3.       Putri Amelia Lubis, Jurusan PJKR (FIK)  
4.      Putri Mentari Rahman, Jurusan Pend. Geografi (FIS), dan
5.      Nurhasanah Tambak, Jurusan Pend. Geografi (FIS)

 “Kami tentu sudah siap untuk kesempatan besar ini,” tandasnya.
Sekretaris Pengprov FAJI Sumut Elwin Rezapahlevi menambahkan, untuk berangkat ke WRC 2016, tim telah meraih juara 1 slalom pada Kejuaraan Daerah (Kejurda) 2015 di Sei Bah Bolon. Lalu, juara 1 di nomor slalom, juara 3 di nomor down river race, dan juara 3 head to head di Kejurnas Arung Jeram 2015 di Sei Bingai.

kenapa takut naik gunung



Kenapa takut naik gunung?

Apa yang terlintas dibenak bunk kalau ada teman yang ngajakin naik gunung atau tracking? Males ah, ntar aja, capek kali, ngga kuat tracking nih, aku takut soalnya aku belum pernah. Banyak sekali alasan kalau dipikir2 ya bunk, tapi bunk2 tau ngga kalau kita sering naik gunung atau tracking banyak manfaat yang akan kita dapat loh..

Bagi bunk2 yang baru pertama kali tracking dan pengen banget nyoba gimana sensasi bawa tas carier yang kecenya bukan main itu, sebelumnya banyak sekali yang harus diperhatikan seperti ketahan fisik kita seperti apa, pengetahuan kita tentang mengepak barang kedalam carier, pengetahuan tentang kompas dan peta dan lain-lain. Hal itu memang diperlukan agar kita nantinya tidak mendapat banyak kendala saat  diperjalanan dan tentunya tidak dijuluki sebagai “pendaki alay”.

Bagi bunk pendaki pemula hal pertama yang perlu diperhatikan adalah ketahanan fisik. Ada baiknya seminggu sebelum melakukan pendakian agar melakukan olahraga rutin terlebih dahulu agar ketahanan fisiknya tidak diragukan lagi. Setelah itu bunk juga harus punya pengetahuan yang bagus untuk mengepak barang2 kedalam carier agar tas atau carier yang hendak kita bawa tidak menyusahkan kita saat tracking.
Nah kalau bunk sudah latihan rutin dan punya pengetahuan tentang melakukan pendakian, bunk bisa langsung cusss mulai pendakian.. kalau misalnya bunk masih kurang paham tentang penggunaan kompas dan peta, jangan takut.. masih bisa kok mendaki gunung dengan menggunakan jasa ranger.
Sekarang ini udah banyak jasa ranger atau porter yang paham tentang jalur gunung yang akan kita daki, so jangan risau dan berkecil hati ya bunk, meskipun bunk kurang paham mengenai kompas dan peta, bunk masih bisa daki gunung kok hehe

Oh iya bunk, yang ini jangan sampai kelupaan.. Logistik atau bekal makanan! Mengenai logistik atau bekal makanan sekarang sih banyak para pendaki yang membawa makanan instan untuk jadi bahan makanan mereka, memang makanan instan selain murah juga tidak perlu repot membawanya, akan tetapi bunk.. mengingat banyaknya berita mengenai banyaknya tumpukan sampah di kawasan pendakian akhir-akhir ini.. kita harus menyadari bahwa sampah-sampah itu sendiri sebagian besar berasal dari bungkus makanan yang dibawa para pendaki. Alangkah baiknya jika bunk membuat dan membawa makanan dengan wadah yang lebih ekonomis, seperti membuat “sartika” (sambal teri kacang) dan meletakkannya dalam wadah bekal dan atau membuat makanan yang bisa tahan lama lainnya. Memang agak repot sih bunk.. tapi dengan melakukan hal seperti itu alam akan selalu terjaga hingga anak cucu kita nanti juga bisa menikmati kelestarian dan keindahan alam ini.

Dan setelah itu hal penting lain yang harus diperhatikan ketika ingin mendaki adalah waktu, bunk2 harus menentukan waktu yang tepat untuk memulai pendakian. Misalnya bunk2 harus tau pada bulan apa saja musim kemarau dan sebaliknya bunk2 harus tau pada bulan apa saja curah hujan akan meningkat, agar bunk2 bisa melakukan perjalanan dengan aman dan nyaman. Kita berharap cuaca cerah waktu kita dipuncak tentunya, agar bisa mengabadikan momen berharga ini ya kan bunk.. hehe
Jadi... pengen tracking kemana dulu nih???

ekspedisi 7 summit mapala unimed semeru series

Ekspedisi seven summits volcano indonesia (semeru series)
Mapala Unimed

 
Istilah Seven Summits pertama kali diperkenalkan oleh Richard (Dick) Daniel Bass, warga negara Amerika Serikat, sekitar tahun 1980. Bass membuat sebuah daftar yang berisi 7 puncak tertinggi di tujuh benua. Daftar ini dikenal dengan “Bass list”. Bass menyelesaikan pendakian seven summit-nya dengan pendakian Everest pada tanggal 30 April 1985, namun kemudian “Bass List” ini direvisi oleh Reinhold Messner dengan mengganti puncak tertinggi di australia yaitu gunung Kosciuszko dengan Cartenz Pyramid yang terletak di Papua, mewakili wilayah Oceania. Revisi Messner inilah kemudian dikenal sebagai “Messner List” yang menjadi lebih populer di dunia. Seven Summits versi Messner List ini pertama kali diselesaikan oleh Patrick Morrow (Canada) pada tanggal 7 Mei 1986, disusul oleh Messner sendiri beberapa bulan berikutnya, yaitu pada tanggal 3 Desember 1986.

Mapala Unimed sendiri memiliki Program Kerja Lima Tahun (Prolita) yakni Ekspedisi “Seven Summits Volcano Indonesia Mapala Unimed”, ekspedisi ini sudah berlangsung pada bulan agustus 2016 lalu. Ekspedisi ini dilakukan secara bertahap selama 5 tahun, diharapkan 7 puncak tertinggi di Indonesia bisa tercapai. Ekspedisi yang telah berlangsung tahun 2015 telah terlaksana dengan Pendakian Gunung Kerinci, Kab.Solok Selatan, Sumatera Barat. Tahun 2016 ini Ekspedisi Seven Summits telah terlaksana di Gunung Semeru Kab. Lumajang, Jawa Timur.  Mapala Unimed mengirim 3 orang delegasi terpercaya untuk melakukan ekspedisi ini, mereka yakni : 

1.      Arnold Kristian Siagian (bunk Cairop) Fakultas Ilmu Keolahragaan
2.      Irwan Hidayat (bunk Karten) Fakultas Teknik
3.      Iga Wihantara Hasibuan (bunk Pekalab) Fakultas Teknik
Nah, untuk Tahun depan Mapala Unimed akan melaksanakan Ekspedisi Seven Summits di Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Untuk Pengurus tahun depan semangat terus ya agar progja kita bisa berjalan. Bagi konkawan yang ingin mengikuti Ekspedisi ini, caranya mudah kok harus bergabung dan jadi anggota dulu ya di Mapala Unimed.. hehe