Kamis, 09 Februari 2017

tim arung jeram putri mapala unimed



“Tim Arung Jeram Putri MAPALA UNIMED U-23 Berlaga di Abu Dhabi (uni emirat arab)”

MEDAN – Berlokasi di titik nol Kota Medan, persisnya tugu depan Kantor Pos Lapangan Merdeka, Medan, Ketua Pengurus Provinsi (Pengprov) Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) Sumatera Utara Soekirman memberangkatkan tim putri U- 23 ke World Rafting Championship (WRC) 2016 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, Sabtu (29/10).
Mereka akan berlaga pada 31 Oktober–5 November. Meski hanya menggelar seremonial yang sangat sederhana, berangkat dari titik nol ini dianggap bisa menjadi penyemangat tim FAJI Sumut untuk meraih prestasi di ajang internasional tersebut. “Tidak ada seribu kalau tidak ada nol. Nah, titik nol Kota Medan ini semoga menjadi semangat bagi FAJI Sumut untuk meraih seribu prestasi bagi Indonesia, khususnya sekarang ini di WRC 2016, Abu Dhabi,” kata Soekirman.

Di ajang WRC kali ini Soekirman yang juga Bupati Serdangbedagai (Sergai) berharap tim besutannya mampu meraih medali dan mengulang prestasi ketika mampu menyabet 2 perak dan 3 perunggu pada Ekshibisi PON XIX 2016 di Jawa Barat, belum lama ini. Menurut dia, keberangkatan kelima putri Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Universitas Negeri Medan (Unimed) sebagai tim FAJI Sumut mewakili Indonesia di WRC 2016 ini juga sebagai simbol kebangkitan perempuan, khususnya Sumatera Utara.
“Selain semangat, dalam ajang yang bakal diikuti 22 negara ini tim harus memiliki 4 B. meliputi bond, brave, berain, dan behavior. Dengan ini tentunya saya optimis tim ini akan mampu bersaing dengan atlet dari Negara luar nantinya,” kata Soekirman. Pelepasan itu ditandai Soekirman dengan menyerahkan bendera Merah Putih kepada Manajer Tim Joni Walker Manik, didampingi Sekretaris Pengprov FAJI Sumut Elwin Rizapahlevi. Dalam kesempatan itu, Joni Walker Manik mengatakan, pihaknya akan berusaha sekuat tenaga untuk tampil bagus di WRC 2016.

“Tampil di Abu Dhabi ini adalah sirkuit arung jeram satu-satunya buatan manusia di dunia. Kami tidak pernah tahu seperti apa bentuknya,” ucapnya. Sementara itu, tim putri U- 23 bertindak sebagai kapten adalah  Nurima, beranggotakan :
1.      Mariani Manik, Jurusan Pend. Matematika (FMIPA)
2.      Nurima Pasaribu, Jurusan Pend. Bahasa Inggris (FBS)
3.       Putri Amelia Lubis, Jurusan PJKR (FIK)  
4.      Putri Mentari Rahman, Jurusan Pend. Geografi (FIS), dan
5.      Nurhasanah Tambak, Jurusan Pend. Geografi (FIS)

 “Kami tentu sudah siap untuk kesempatan besar ini,” tandasnya.
Sekretaris Pengprov FAJI Sumut Elwin Rezapahlevi menambahkan, untuk berangkat ke WRC 2016, tim telah meraih juara 1 slalom pada Kejuaraan Daerah (Kejurda) 2015 di Sei Bah Bolon. Lalu, juara 1 di nomor slalom, juara 3 di nomor down river race, dan juara 3 head to head di Kejurnas Arung Jeram 2015 di Sei Bingai.

kenapa takut naik gunung



Kenapa takut naik gunung?

Apa yang terlintas dibenak bunk kalau ada teman yang ngajakin naik gunung atau tracking? Males ah, ntar aja, capek kali, ngga kuat tracking nih, aku takut soalnya aku belum pernah. Banyak sekali alasan kalau dipikir2 ya bunk, tapi bunk2 tau ngga kalau kita sering naik gunung atau tracking banyak manfaat yang akan kita dapat loh..

Bagi bunk2 yang baru pertama kali tracking dan pengen banget nyoba gimana sensasi bawa tas carier yang kecenya bukan main itu, sebelumnya banyak sekali yang harus diperhatikan seperti ketahan fisik kita seperti apa, pengetahuan kita tentang mengepak barang kedalam carier, pengetahuan tentang kompas dan peta dan lain-lain. Hal itu memang diperlukan agar kita nantinya tidak mendapat banyak kendala saat  diperjalanan dan tentunya tidak dijuluki sebagai “pendaki alay”.

Bagi bunk pendaki pemula hal pertama yang perlu diperhatikan adalah ketahanan fisik. Ada baiknya seminggu sebelum melakukan pendakian agar melakukan olahraga rutin terlebih dahulu agar ketahanan fisiknya tidak diragukan lagi. Setelah itu bunk juga harus punya pengetahuan yang bagus untuk mengepak barang2 kedalam carier agar tas atau carier yang hendak kita bawa tidak menyusahkan kita saat tracking.
Nah kalau bunk sudah latihan rutin dan punya pengetahuan tentang melakukan pendakian, bunk bisa langsung cusss mulai pendakian.. kalau misalnya bunk masih kurang paham tentang penggunaan kompas dan peta, jangan takut.. masih bisa kok mendaki gunung dengan menggunakan jasa ranger.
Sekarang ini udah banyak jasa ranger atau porter yang paham tentang jalur gunung yang akan kita daki, so jangan risau dan berkecil hati ya bunk, meskipun bunk kurang paham mengenai kompas dan peta, bunk masih bisa daki gunung kok hehe

Oh iya bunk, yang ini jangan sampai kelupaan.. Logistik atau bekal makanan! Mengenai logistik atau bekal makanan sekarang sih banyak para pendaki yang membawa makanan instan untuk jadi bahan makanan mereka, memang makanan instan selain murah juga tidak perlu repot membawanya, akan tetapi bunk.. mengingat banyaknya berita mengenai banyaknya tumpukan sampah di kawasan pendakian akhir-akhir ini.. kita harus menyadari bahwa sampah-sampah itu sendiri sebagian besar berasal dari bungkus makanan yang dibawa para pendaki. Alangkah baiknya jika bunk membuat dan membawa makanan dengan wadah yang lebih ekonomis, seperti membuat “sartika” (sambal teri kacang) dan meletakkannya dalam wadah bekal dan atau membuat makanan yang bisa tahan lama lainnya. Memang agak repot sih bunk.. tapi dengan melakukan hal seperti itu alam akan selalu terjaga hingga anak cucu kita nanti juga bisa menikmati kelestarian dan keindahan alam ini.

Dan setelah itu hal penting lain yang harus diperhatikan ketika ingin mendaki adalah waktu, bunk2 harus menentukan waktu yang tepat untuk memulai pendakian. Misalnya bunk2 harus tau pada bulan apa saja musim kemarau dan sebaliknya bunk2 harus tau pada bulan apa saja curah hujan akan meningkat, agar bunk2 bisa melakukan perjalanan dengan aman dan nyaman. Kita berharap cuaca cerah waktu kita dipuncak tentunya, agar bisa mengabadikan momen berharga ini ya kan bunk.. hehe
Jadi... pengen tracking kemana dulu nih???

ekspedisi 7 summit mapala unimed semeru series

Ekspedisi seven summits volcano indonesia (semeru series)
Mapala Unimed

 
Istilah Seven Summits pertama kali diperkenalkan oleh Richard (Dick) Daniel Bass, warga negara Amerika Serikat, sekitar tahun 1980. Bass membuat sebuah daftar yang berisi 7 puncak tertinggi di tujuh benua. Daftar ini dikenal dengan “Bass list”. Bass menyelesaikan pendakian seven summit-nya dengan pendakian Everest pada tanggal 30 April 1985, namun kemudian “Bass List” ini direvisi oleh Reinhold Messner dengan mengganti puncak tertinggi di australia yaitu gunung Kosciuszko dengan Cartenz Pyramid yang terletak di Papua, mewakili wilayah Oceania. Revisi Messner inilah kemudian dikenal sebagai “Messner List” yang menjadi lebih populer di dunia. Seven Summits versi Messner List ini pertama kali diselesaikan oleh Patrick Morrow (Canada) pada tanggal 7 Mei 1986, disusul oleh Messner sendiri beberapa bulan berikutnya, yaitu pada tanggal 3 Desember 1986.

Mapala Unimed sendiri memiliki Program Kerja Lima Tahun (Prolita) yakni Ekspedisi “Seven Summits Volcano Indonesia Mapala Unimed”, ekspedisi ini sudah berlangsung pada bulan agustus 2016 lalu. Ekspedisi ini dilakukan secara bertahap selama 5 tahun, diharapkan 7 puncak tertinggi di Indonesia bisa tercapai. Ekspedisi yang telah berlangsung tahun 2015 telah terlaksana dengan Pendakian Gunung Kerinci, Kab.Solok Selatan, Sumatera Barat. Tahun 2016 ini Ekspedisi Seven Summits telah terlaksana di Gunung Semeru Kab. Lumajang, Jawa Timur.  Mapala Unimed mengirim 3 orang delegasi terpercaya untuk melakukan ekspedisi ini, mereka yakni : 

1.      Arnold Kristian Siagian (bunk Cairop) Fakultas Ilmu Keolahragaan
2.      Irwan Hidayat (bunk Karten) Fakultas Teknik
3.      Iga Wihantara Hasibuan (bunk Pekalab) Fakultas Teknik
Nah, untuk Tahun depan Mapala Unimed akan melaksanakan Ekspedisi Seven Summits di Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Untuk Pengurus tahun depan semangat terus ya agar progja kita bisa berjalan. Bagi konkawan yang ingin mengikuti Ekspedisi ini, caranya mudah kok harus bergabung dan jadi anggota dulu ya di Mapala Unimed.. hehe

Selasa, 30 Agustus 2016

Teknik Pengepakan Barang Ke Dalam Ransel



TEKNIK PENGEPAKAN BARANG KE DALAM RANSEL/CARRIER

          Seringkali ketika kita sedang melakukan perjalanan di alam bebas, tas ransel atau carier kita terasa sangat berat sehingga kita sulit untuk melanjutkan perjalanan. Sebenarnya apa yang salah? Kemungkinan masalahnya ada pada tas kita, kita salah menyusun atau mengepak barang yang kita bawa. Untuk melakukan perjalanan dialam bebas perlu diperhatikan mengenai pengepakan barang (packing). Hal ini bertujuanuntuk kenyamanan dan keamanan selama perjalanan. Bagaimana sebaiknya mengepak barang-barang bawaan ke dalam carier agar nyaman dan nyaman?
            Mengenai pengepakan barang (packing) semua itu adalah seni, karena pengepakan barang kedalam carier adalah tergantung si pengguna, bagaimana menurutnya nyaman dan aman. Tetapi ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengepakan barang yang akan dibawa dalam perjalanan, apa itu?
1.      Carier yang dibawa harus benar-benar kuat dan standar perjalanan di alam bebas, untuk mendapatkan carier yang sesuai dengan standar, dapat diperoleh di toko (outlet) outdoor.
2.      Barang bawaan sudah dikemas dengan baik sedemikian rupa dan dikelompokkan sesuai jenis, contohnya bahan-bahan makanan dikelompokkan, alat-alat makan dikelompokkan, safety equipment dikelompokkan, dll.
3.      Matras tidur sebaiknya dimasukkan kedalam carier, dengan cara dilingkarkan sesuai bentuk carier, tujuannya agar dapat membantu mempertahankan bentuk carier dan mempermudah penyusunan barang ke dalam carier, sehingga menjadi padat, rapi dan efisien. Kemudian masukkan plastik packing guna menjaga agar barang-barang bawaan tidak basah saat terkena hujan.
4.      Usahakan barang-barang yang jarang dipakai dan ringan saat tracking, diletakkan dibagian paling bawah, contohnya perlengkapan tenda gunung, sleeping bag dan pakaian. Untuk perlengkapan yang diperlukan secepatnya saat/sedang melakukan perjalanan usahakan diletakkan yang mudah dijangkau dengan cepat, contohnya P3K dan survival kit,diletakkan diatas carier.
5.      Usahakan penempatan barang-barang didalam carier berdasarkan berat dan ringan. Bila barang tersebut bebannya berat, usahakan diletakkan dekat dengan tubuh saat carier dibawa atau beban berat jatuh pada pundak, dikarenakan bila saat mendaki/tracking, kaki akan bebas bergerak, dan kalau beban berat carier jatuh pada pinggul, itu akan membuat kaki tidak bergerak dengan bebas sehingga menyebabkan kelelahan dengan cepat.
Nah, itu dia tadi beberapa teknik pengepakan barang kedalam tas ransel/carier. Semoga bisa membantu Bung dalam mengepak barang dengan baik dan benar ya..
Catatan : Bila sebuah carier penuh dengan semua peralatan yang diperlukan dan peralatan berat tersebut tidak boleh lebih dari 20% sampai 25% dari berat total tubuh orang yang membawa carier. Dan perlu diingat, sebelum mulai mengepak sebaiknya terlebih dahulu dibuat daftar barang bawaan yang akan dibawa (check list).

Rabu, 24 Juni 2015

Seven Summit

Sejarah mengapa angka tujuh yang dicantumkan pada Seven Summits of Seven Continent sementara yang umum diketahui selama ini hanya ada lima benua saja di dunia? Dilihat dari sejarah pergerakan benua dalam rentang waktu ratusan juta tahun yang lalu, Eropa, Asia, Afrika dan Kutub Selatan, keempatnya merupakan benua-benua yang letaknya terpisah. Demikian pula dengan Amerika Utara dan Amerika Selatan yang saat itu juga terletak pada lempeng benua yang berbeda. Dengan demikian, sudah ada enam lempeng benua pada masa itu.

Seven Summits of Seven ContinentBerdasarkan sejarah geologisnya, kepulauan di sekitar Australia yaitu New Zealand, Papua (New Guinea) dan Oceania dulu berada di daratan yang sama dengan Australia. Maka wilayah tersebut dianggap sebagai satu benua geologis Australasia atau biasa juga disebut Australia-Oceania. Maka jadilah Asia, Eropa, Afrika, Amerika Utara, Amerika Selatan, Antartika dan Australasia dianggap sebagai tujuh lempeng benua. Kutub Utara atau Antartika hanyalah sebuah pulau.

Sirkuit Pendakian Seven Summit

Seorang pengusaha berkebangsaan Amerika Serikat bernama Dick Bass yang juga lulusan Yale University jurusan geologi, mencetuskan ide sirkuit pendakian Seven Summits sekaligus menjadi orang pertama yang berhasil menyelesaikannya pada tahun1985. Sirkuit Seven Summits versi Dick Bass meliputi gunung-gunung disebut di atas (paragraf 1) kecuali Carstenz Pyramid (4.884 mdpl) yang tidak masuk pilihan dick bass, melainkan Kosciuszko (2.228 mdpl) di Australia.

Pendaki legendaris asal Italia, Reinhold Messner kemudian mengoreksi versi ini dan mengganti Kosciuszko dengan Carstensz Pyramid yang dianggap berada pada satu lempeng yang sama dengan Australia yaitu Lempeng Australasia. Pat Morrow menyelesaikan sirkuit versi ini pada tanggal 5 Agustus 1986. Messner menjadi yang kedua di akhir tahun yang sama. Maka lahirlah dua pandangan, ada yang mengakui Seven Summits versi Bass dan ada pula yang lebih mengakui versi Messner. Namun agaknya kini Carstensz Pyramid lebih dipandang, sangat mungkin karena lebih menantang dibandingkan puncak Kosciuszko yang bisa dengan amat mudah dicapai pendaki.

Senin, 01 Juni 2015

Geologi Pulau Sumatera

1. Gambaran Umum Pulau Sumatera
Pulau Sumatra, berdasarkan luas merupakan pulau terbesar keenam di dunia. Pulau ini membujur dari barat laut ke arah tenggara dan melintasi khatulistiwa, seolah membagi pulau Sumatra atas dua bagian, Sumatra belahan bumi utara dan Sumatra belahan bumi selatan.Pegunungan Bukit Barisan dengan beberapa puncaknya yang melebihi 3.000 m di atas permukaan laut, merupakan barisan gunung berapi aktif, berjalan sepanjang sisi barat pulau dari ujung utara ke arah selatan; sehingga membuat dataran di sisi barat pulau relatif sempit dengan pantai yang terjal dan dalam ke arah Samudra Hindia dan dataran di sisi timur pulau yang luas dan landai dengan pantai yang landai dan dangkal ke arah Selat Malaka, Selat Bangka dan Laut China Selatan.
Di bagian utara pulau Sumatra berbatasan dengan Laut Andaman dan di bagian selatan dengan Selat Sunda. Pulau Sumatra ditutupi oleh hutan tropik primer dan hutan tropik sekunderyang lebat dengan tanah yang subur. Gungng berapi yang tertinggi di Sumatra adalah Gunung Kerinci di Jambi, dan dengan gunung berapi lainnya yang cukup terkenal yaitu Gunung Leuser di Nanggroe Aceh Darussalam dan Gunung Dempo di perbatasan Sumatra Selatan dengan Bengkulu. Pulau Sumatra merupakan kawasan episentrum gempa bumi karena dilintasi oleh patahan kerak bumi disepanjang Bukit Barisan, yang disebut Patahan Sumatra; dan patahan kerak bumi di dasar Samudra Hindia disepanjang lepas pantai sisi barat Sumatra. Danau terbesar di Indonesia, Danau Toba terdapat di pulau Sumatra.

2. Sejarah Terbentuknya Struktur Geologi Pulau Sumatera
Struktur geologi adalah segala unsure dari bentuk arsitektur kulit bumi / gambaran geometri (bentuk dan hubungan) yang diakibatkan oleh gejala - gejala gaya endogen. Secara umum terdapat unsur - unsur dari struktur geologi yaitu, Bidang perlapisan, Lipatan, Patahan dan kekar atau joint.
Pada awal berkembangnya geologi, Pemikiran geologi dimulai oleh Leonardo da Vinci (1452-1519). Pada awalnya perkembangan geologi didominasi pemikiran klasik (fixist), yang menganggap pembentukan orogenesa dan geosinklin terjadi di tempat yang tetap. Mewakili pemikiran ini misalnya Erich Haarmann (1930), yang menyatakan bahwa orogenesa terjadi karena kulit bumi terangkat seperti tumor, dan melengser karena gaya berat. Selanjutnya pendapat ini diterapkan oleh van Bemmelen (1933) di Indonesia sebagai Teori Undasi.
Pemikiran lain, mobilist dikemukakan Antonio Snider-Pellgrini (1658) yang mencermati kesamaan bentuk pantai barat dan timur Atlantik, serta Alfred Lothar Wegener (1915) yang mengemukakan konsep “benua mengembara”. Perubahan mendasar geologi global terjadi setelah Perang Dunia II, ketika data geofisika lantai samudera menunjukkan bahwa jalur anomali magnet mempunyai rasio yang tetap di mana-mana. Pada 250 juta tahun yang lalu benua merupakan satu kesatuan benua induk, atau Pangea. Perputaran bumi mendorong benua untuk bergerak ke arah kutub, sehingga benua terpecah-pecah sebagai kepingan benua kecil-kecil seperti saat ini: 6 lempeng utama dengan 14 lempeng yang lebih kecil. Dengan demikian maka seluruh permukaan bumi berada di dalam satu kesatuan proses geologis yang universal: Tektonik Global.


Indonesia dikenal sebagai wilayah yang mempunyai tatanan geologi yang unik dan rumit. Banyak ahli geologi yang berusaha menjelaskan fenomena tersebut, baik dengan menggunakan pendekatan teori tektonik klasik maupun tektonik global.
Mewakili contoh pemikiran tektonik klasik, Van Bemmelen (1933) menggunakan Teori Undasi dalam menjelaskan keberadaan jalur-jalur magmatik yang menyebar secara ritmik menerus dari Sumatera ke Kalimantan barat dan Kalimantan. Berikutnya, Westerveld (1952) merekontruksikan jalur orogen di Indonesia dengan menggunakan pendekatan konsep geosinklin. Hasilnya adalah terpetakan lima jalur orogen dan satu komplek orogen yang ada di Indonesia.
Menurut pemikiran tektonik global, konfigurasi saat ini merupakan representasi dari hasil kerja pertemuan konvergen tiga lempeng sejak jaman Neogen, yaitu: lempeng samudera Indo-Australia, lempeng samudera Pasifik, dan lempeng benua Asia Tenggara. Tatanan tektonik Indonesia bagian barat menunjukkan pola yang relatif lebih sederhana dibanding Indonesia timur. Kesederhanaan tatanan tektonik tersebut dipengaruhi oleh keberadaan daratan Sunda yang relatif stabil. Sementara keberadaan lempeng benua mikro yang dinamis karena dipisahkan oleh banyak sistem sangat mempengaruhi bentuk kerumitan tektonik Indonesia bagian timur. Berdasarkan konsep ini pula di Indonesia terbentuk tujuh jalur orogen, yaitu jalur-jalur orogen: Sunda, Barisan, Talaud, Sulawesi, Banda, Melanisia dan Dayak.
Sekilas mengenai gambaran sejarah terbentuknya geologi Indonesia, pada paragraph selanjutnya akan dibahas selangkah lebih mengerucut tentang mengenai dampak yang terjadi dari adanya penunjaman sunda oleh lempeng australia baik bagi kondisi busur sunda maupun sesar pulau sumatera.
Sistem penunjaman Sunda berawal dari sebelah barat Sumba, ke Bali, Jawa, dan Sumatera sepanjang 3.700 km, serta berlanjut ke Andaman-Nicobar dan Burma. Arah penunjaman menunjukkan beberapa variasi, yaitu relatif menunjam tegak lurus di Sumba dan Jawa serta menunjam miring di sepanjang Sumatera, kepulauan Andaman dan Burma. Penunjaman mempunyai kemiringan sekitar 7o. Busur akresi terbentuk selebar 75 – 150 km dari palung dengan ketebalan material terakresi mencapai 15 km. Cekungan muka busur berada di antara punggungan muka busur dan garis pantai sistem penunjaman dengan lebar 150 - 200 km. Busur vulkanik yang sekarang aktif di atas zona Benioff berada pada kedalaman 100 – 130 km. Sistem penunjaman Sunda ini merupakan tipe busur tepi kontinen sekaligus busur kepulauan, yang berlangsung selama Kenozoikum Tengah – Akhir. Busur magmatik ini berubah dari kecenderungan bersifat kontinen di Sumatera, transisional di Jawa ke busur kepulauan di Bali dan Lombok.

Berdasarkan karakteristik morfologi, ketebalan endapan palung busur dan arah penunjaman, busur Sunda dibagi menjadi beberapa propinsi. Dari timur ke barat terdiri dari propinsi Jawa, Sumatera Selatan dan Tengah, Sumatera Utara – Nicobar, Andaman dan Burma. Diantara Propinsi Jawa dan Sumatera Tengah – Selatan terdapat Selat Sunda yang merupakan batas tenggara lempeng Burma. Penyimpulan ini menyisakan pertanyaan karena kenampakan anomali gaya berat menunjukkan bahwa pola Jawa bagian barat yang cenderung lebih sesuai dengan pola Sumatera dibanding dengan Jawa bagian Timur.

3. Pengaruh Tektonik Regional pada Perkembangan Sesar Sumatera
Sejarah tektonik Pulau Sumatera berhubungan erat dengan pertumbukan antara lempeng India-Australia dan Asia Tenggara, sekitar 45,6 Juta tahun lalu yang mengakibatkan perubahan sistematis dari perubahan arah dan kecepatan relatif antar lempengnya berikut kegiatan ekstrusi yang terjadi padanya. Proses tumbukan ini mengakibatkan terbentuknya banyak sistem sesar geser di bagian sebelah timur India, untuk mengakomodasikan perpindahan massa secara tektonik. Selanjutnya sebagai respon tektonik akibat dari bentuk melengkung ke dalam dari tepi lempeng Asia Tenggara terhadap Lempeng Indo-Australia, besarnya slip-vectorini secara geometri akan mengalami kenaikan ke arah barat laut sejalan dengan semakin kecilnya sudut konvergensi antara dua lempeng tersebut.Keadaan Pulau Sumatera menunjukkan bahwa kemiringan penunjaman, punggungan busur muka dan cekungan busur muka telah terfragmentasi akibat proses yang terjadi. Kenyataan menunjukkan bahwa adanya transtensi (trans-tension) Paleosoikum tektonik Sumatera menjadikan tatanan tektonik Sumatera menunjukkan adanya tiga bagian pola. Bagian selatan terdiri dari lempeng mikro Sumatera, yang terbentuk sejak 2 juta tahun lalu dengan bentuk, geometri dan struktur sederhana, bagian tengah cenderung tidak beraturan dan bagian utara yang tidak selaras dengan pola penunjaman.
Kompleksitas tatanan geologi Sumatera, perubahan lingkungan tektonik dan perkembangannya dalam ruang dan waktu memungkinkan sebagai penyebab keanekaragaman arah pola vektor hubungannya dengan slip-ratedan segmentasi Sesar Sumatera. Hal tersebut antara lain karena (1) perbedaan lingkungan tektonik akan menjadikan batuan memberikan tanggapan yang beranekaragam pada reaktivasi struktur, serta (2) struktur geologi yang lebih tua yang telah terbentuk akan mempengaruhi kemampuan deformasi batuan yang lebih muda.